Facebook SDK

 


LENSASMAGO - Guru adalah figur orang yang ikhlas mendidik untuk generasi muda harapan bangsa yang berilmu pengetahuan dan berakhlakul karimah. Guru adalah cahaya yang akan menyinari dunia dengan ilmu dan pengetahuannya”.  Falsafah Jawa mengatakan, “Guru adalah digugu dan ditiru”.


Menurut para Ulama’ dan Kyai memberikan makna bahwa tanggung jawab seorang Guru terhadap muridnya adalah Mengajar, Mendidik, dan Mendo’akan. Inilah yang disebutkan dalam kitab Ta’liimul Muta’alim bahwa “…keberhasilan seorang santri atau siswa dalam menuntut ilmu harus melakukan 6 syarat yang satu di antaranya  adalah wairsyaadul ustadzi (dengan bimbingan seorang guru).

 

Dalam sebuah lirik lagu yang berjudul Untukmu Guruku

 

Guruku tersayang…

Guruku tercinta….

Tanpamu apa jadinya aku…

Tak bisa baca tulis, mengerti banyak hal,

Guruku, terima kasihku…

Nyatanya diriku, kadang buatmu marah…..

Namun segala maaf kau berikan…

 

Dari ungkapan-ungkapan dan lirik lagu di atas kata “GURU” memilki makna, kedudukan dan tanggung jawab yang cukup mulia dan tinggi. Sehingga tidaklah salah dan tidak berlebihan kalau Bapak Sartono pengarang lirik lagu Hymne Guru menuliskan :

 

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa…..

Pembangun insan cendekia….

 

Dari penggalan lirik lagu hymne guru di atas tentu semua orang tahu lebih-lebih terkhusus untuk Bapak/Ibu Guru. Namun tidak banyak yang tahu kalau pada akhir lirik lagu tersebut telah mengalami perubahan. Sejak tanggal 8 November tahun 2007 pengarang lagu hymne guru Bapak Sartono telah menandatangani secara resmi untuk penggantian lirik lagu karangannya yang disaksikan oleh Ketua pengurus besar PGRI  H. Muhammad Rusli.

 

Adapun yang diganti adalah lirik terakhir :

 

“tanpa tanda jasa” diganti dengan “pembangun insan cendekia.”


Hay SMAGOPEDIA! Punya Hobi Menulis? Ingin tulisanmu dibaca banyak orang? Yuk, kembangkan kreatifitas menulis kamu di lensasmago.com | Tulisan kamu akan dipublikasikan di Lensa SMAGO loh | Hasil karya bebas, bisa artikel, cerpen, puisi, dsb. | Kamu juga akan mendapat bimbingan langsung | Buruan Gabung, kita tunggu yah | Hubungi nomor Whatsapp berikut 0812 3310 3663 atau 0822 3436 2046

 

Menjadi guru ternyata tidak hanya bermodalkan selembar Ijasah/selembar sertifikat Pendidik  saja, melainkan menjadi guru  merupakan panggilan hati. Sehingga ketika seseorang ingin menjadi  guru hanya karena gaji, maka bersiap-siaplah untuk kecewa.

 

Menurut teori Ilmu Pendidikan ternyata guru yang professional dituntut untuk memiliki banyak keterampilan atau skill. Skill ini antara lain :


Menguasai bahan ajar, menguasai landasan-landasan kependidikan (dasar-dasar pendidikan), mampu mengelola program kegiatan belajar mengajar, mampu mengelola kelas, mampu menggunakan media pembelajaran, memilki kepribadian yang tinggi, mampu mengevaluasi/menilai prestasi peserta didik untuk kepentingan pengajaran dan lain sebagainya yang semuanya diperlukan untuk keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar (KBM).

 


Dalam pandangan Islam, salah satu hal yang menarik adalah Islam memberikan penghargaan yang sangat tinggi terhadap seorang Guru, begitu tingginya penghargaan itu, sehingga menempatkan kedudukan Guru setingkat di bawah kedudukan para Nabi dan Rasul.

 

Menurut Syeh Muhammad bin Jamil Zainu Rahimahullahu ta’ala menyebutkan bahwa :

 

“Kedudukan guru di tengah masyarakat itu bagaikan para Nabi dan Rasul yang diutus Allah bagi manusia untuk memberikan petunjuk dan bimbingan, mengajari,dan mengenalkan Tuhan Yang menciptakan mereka, “Nidaa’ ilaal Murobiyyin wal Murobiyyaat” (Panggilan bagi Para Pendidik , Lelaki maupun Wanita).

 

Hal ini dikarenakan Guru selalu berdekatan dengan ilmu pengetahuan, sedangkan Islam amat dan sangat menghargai Ilmu. Penghargaan ini telah tergambar dalam sebuah hadist yang artinya

 

Apabila seorang ‘alim meninggal maka terjadilah kekosongan dalam Islam, yang tidak dapat diisi kecuali oleh seorang ‘alim yang lain.” Orang ‘alim dalam hal ini adalah guru.

 

Kita masih banyak menemukan hadist-hadist yang lain yang menjelaskan betapa tingginya kedudukan seorang guru.

 


Menurut Imam Al-Ghazali, beliau menjelaskan bahwa Orang yang ‘alim yang bersedia mengamalkan pengetahuannya (ilmunya) adalah termasuk orang besar di semua kerajaan langit. Dia seperti Matahari yang menerangi alam, seperti bulan yang menerangi malam dan kegelapan. Ia mempunyai cahaya dalam dirinya.

 

Dalam Kitab Ihya’’Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali juga menyebutkan bahwa,

 

“Siapa yang memilih menjadi pengajar (guru) sebagai pekerjaannya, maka ia sesungguhnya telah memilih pekerjaan yang besar dan penting.”

 

Sampai-sampai Sayyidina ‘Ali Radhiallahu ‘anhu (seroang khalifah yang pandai, ilmuan dan teknokrat di zaman Rasul), mengatakan…

 

اناعبد من علمني حرفا

 

Aku akan siap menjadi hamba sahaya (budak) kepada orang yang telah mengajarkan ilmu kepadaku walau itu hanya satu huruf saja.

 

Tingginya kedudukan guru dalam Islam masih dapat kita saksikan secara nyata pada saat sekarang. Itu dapat kita lihat terutama di pesanten-pesantren di Indonesia. Seorang santri tidak akan berani menatap dan menantang sinar mata Kyainya. Sebagian lagi membungkukkan badan ketika menghadap rumah sang Kyai. Hal ini semua dikarenakan mereka silau akan tingkah laku Kyai yang begitu mulia, sinar matanya yang menembus, ilmunya yang luas dan dalam, serta do’anya yang diyakini mujarab.

 

Ada penyebab mengapa orang Islam sangat menghargai guru, karena berpandangan bahwa ilmu semua itu bersumber dari Tuhan, oleh karena itu Allah SWT. Berfirman yang artinya :

 

سبحنك لاعلم لنا الاماعلمتنا….الايه

 

Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui kecuali apa yang telah Engkau ajarkan pada diri kami.” (Al-Baqoroh : 32)

 

Kedudukan guru yang tinggi dalam Islam kelihatannya memang berbeda dari kedudukan guru di dunia barat. Perbedaan itu amatlah jelas, karena di barat itu kedudukan guru tidak memilki warna kelangitan, nilai barokah dan lain-lain, melainkan kedudukan guru tidak sekedar hanyalah orang yang memilki pengetahuan lebih banyak daripada muridnya. Hubungan guru juga tidak lebih dari sekedar pemberi dan penerima pengetahuan saja. Sehingga wajarlah kalau di barat hubungan guru adalah hanya hubungan kepentingan pemberi dan penerima jasa (pengetahuan). Karena itu pula hubungan juga dilihat oleh berapa besarnya pembayaran (uang) yang dilakukan berdasarkan perhitungan ekonomi (profit orientet)

 

Sehingga secara historis mulai nampak bahwa hubungan antara guru dan murid dalam Islam sedikit demi sedikit mulai terkikis dan berubah. Nilai ekonomi yang sedikit-demi sedikit mulai mengikis dan merubah  kurang lebih sebagai berikut :

 

  1. Kedudukan dan kewibawaan guru dalam Islam mulai merosot
  2. Hubungan guru dan murid kurang bernilai kebarokahan, penghormatan guru dan murid mulai menurun
  3. Harga-harga mengajar juga mulai tinggi (profit orientet)

 

Untuk itulah, bagi semua yang akan menjadi guru, atau yang sudah menjadi guru hendaklah membayar harapan masyarakat dan pemerintah akan peningkatan kualitas pendidikan dengan telah terpenuhinya peningkatan kesejahteraan guru (sertifikasi). Jika tidak, mungkin pemerintah akan berpikir ulang masih tetapkah tentang pemberian TPG kepada guru bila kualitas guru dan kualitas peningkatan guru tidak pernah kunjung meningkat setelah pemberian TPG.

 

Senyampang masih dalam suasana Hari Pahlawan 10 November dan Hari Guru 25 November, kita sebagai guru perlu melakukan introspeksi diri (muhasabah). Apa yang telah kita berikan kepada bangsa ini? Karena kita (guru) terlanjur diberikan gelar Pahlawan, walau kini tidak lagi 'tanpa tanda jasa', tapi semangat kepahlawanan yakni berjuang dengan hati yang ikhlas terus selalu kita tumbuhkan demi anak-anak bangsa tercinta. Selamat Hari Guru  ke 75!

 

Author : IMAM MUJAHIT, S.Pd., M.Si., Kepala SMAN 1 Gondang Nganjuk



BACA ARTIKEL LAIN :
loading...

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama
Untuk mendapatkan informasi terbaru dari LENSA SMAGO silahkan masukkan email anda, GRATIS!!!

loading...